Jumat, 20 April 2018
Senin, 19 Maret 2018
Kamis, 28 Desember 2017
Tugas Rangkuman Softskill
Jenis Jenis Audit Teknologi Informasi
1. Sistem dan aplikasi.
2. Fasilitas pemrosesan informasi.
3. Pengembangan sistem.
4. Arsitektur perusahaan dan manajemen TI.
5. Client/Server, telekomunikasi, intranet, dan ekstranet.
COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology) adalah sekumpulan dokumentasi dan panduan yang mengarahkan pada IT governance yang dapat membantu auditor, manajemen, dan pengguna (user) untuk menjembatani pemisah antara resiko bisnis, kebutuhan kontrol, dan permasalahan-permasalahan teknis. IT Governance adalah sistem yang mengatur dan mengendalikan seluruh proses teknologi informasi perusahaan/organisasi yang strukturnya akan menetapkan pendistribusian hak dan tanggung jawab antara pihak-pihak yang terlibat juga berisikan peraturan serta strategi yang ditetapkan perusahaan/ organisasi.
Delivery and Support(DS)
Domain ini mencakup proses pemenuhan layanan IT, keamanan sistem, kontinyuitas layanan, pelatihan dan pendidikan untuk pengguna, dan pemenuhan proses data yang sedang berjalan. Domain DS ini terdiri dari 13 (tiga belas) proses teknologi informasi.
DS1
|
Mendefinisikan dan mengelola tingkat layanan |
DS2
|
Mengelola layanan pihak ketiga |
DS3
|
Mengelola kinerja dan kapasitas |
DS4
|
Memastikan layanan yang berkelanjutan |
DS5
|
Memastikan keamanan sistem |
DS6
|
Mengidentifikasikan dan mengalokasikan biaya |
DS7
|
Mendidik dan melatih pengguna |
DS8
|
Mengelola service desk dan insiden |
DS9
|
Mengelola konfigurasi |
DS10
|
Mengelola permasalahan |
DS11
|
Mengelola data |
DS12
|
Mengelola lingkungan fisik |
DS13
|
Mengelola operasi |
IT Forensik merupakan ilmu yang berhubungan dengan pengumpulan fakta dan bukti pelanggaran keamanan sistem informasi serta validasinya menurut metode yang digunakan (misalnya metode sebab-akibat), di mana IT Forensik bertujuan untuk mendapatkan fakta-fakta objektif dari sistem informasi.
Contoh barang bukti dalam bentuk elektronik atau data seperti :
• Komputer
• Hardisk
• MMC
• CD
• Flashdisk
• Camera Digital
• Simcard/hp
- Membuat copies dari keseluruhan log data, files, daln lain-lain yang dianggap perlu pada media terpisah.
- Membuat fingerprint dari data secara matematis.
- Membuat fingerprint dari copies secvara otomatis.
- Membuat suatu hashes masterlist.
- Dokumentasi yang baik dari segala sesuatu yang telah dikerjakan.
- Anonim. 2013. Buku Pedoman Akademik. Tahun Akademik 2012-2013. Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Lombok. Praya.
- Anonim. 2014. Pedoman Pelaksanaan Tugas Tanggungjawab STMIK Lombok. Praya: Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Lombok.
- Gondodiyoto, S. 2007. Audit Sistem Informasi: Pendekatan Cobit, Edisi Revisi. Jakarta: Mitra Wacana Media.
- Widyanti, Sri, 2010, Audit Tata Kelola Teknologi Informasi dengan Menggunakan Maturity Assessment Tool COBIT 4.1.
- https://id.wikipedia.org/wiki/Audit_teknologi_informasi.
- https://b-inovatif.blogspot.co.id/2017/03/sejarah-audit-teknologi.html.
- http://auditsi-imam.blogspot.co.id/2015/04/s.html.
- http://marianasetiawati.blogspot.com/2010/05/komputer-dan-jaringan-forensik-serta.html
- http://www.ebizzasia.com/0217-2004/focus,0217,04.html
- http://www.bangdewa.web.id/article/materikuliah/133/
- http://asyafaat.files.wordpress.com/2009/01/forensik_0-_-90_1s.pdf
- http://journal.uii.ac.id/index.php/Snati/article/viewFile/1634/1409
- http://lysnov.blogspot.com/2010/05/definisi-dan-tools-it-forensik.html
- http://marianasetiawati.blogspot.com/2010/05/it-forensik-dan-contoh-kasus-it.html
- http://jerenk.blogspot.com/2012/02/modul-it-forensik.html
- http://subkhan14.wordpress.com/2011/03/27/it-forensik-dan-it-audit/
- http://www.it-forensik-forum.de/
Rabu, 29 November 2017
IT Forensik
IT Forensik adalah cabang dari ilmu komputer tetapi menjurus ke bagian forensik yaitu berkaitan dengan bukti hukum yang ditemukan di komputer dan media penyimpanan digital. Komputer forensik juga dikenal sebagai Digital Forensik. Kata forensik itu sendiri secara umum artinya membawa ke pengadilan.
IT Forensik merupakan ilmu yang berhubungan dengan pengumpulan fakta dan bukti pelanggaran keamanan sistem informasi serta validasinya menurut metode yang digunakan (misalnya metode sebab-akibat), di mana IT Forensik bertujuan untuk mendapatkan fakta-fakta objektif dari sistem informasi.
Fakta-fakta tersebut setelah di verifikasi akan menjadi bukti-bukti yang akan di gunakan dalam proses hukum, selain itu juga memerlukan keahlian dibidang IT (termasuk diantaranya hacking) dan alat bantu (tools) baik hardware maupun software.
Contoh barang bukti dalam bentuk elektronik atau data seperti :
• Komputer
• Hardisk
• MMC
• CD
• Flashdisk
• Camera Digital
• Simcard/hp
# Tujuan :
- Membuat copies dari keseluruhan log data, files, daln lain-lain yang dianggap perlu pada media terpisah.
- Membuat fingerprint dari data secara matematis.
- Membuat fingerprint dari copies secvara otomatis.
- Membuat suatu hashes masterlist.
- Dokumentasi yang baik dari segala sesuatu yang telah dikerjakan.
- Viewers (QVP http://www.avantstar.com dan http://www.thumbsplus.de)
- Erase/Unerase tools: Diskscrub/Norton utilities)
- Hash utility (MD5, SHA1)
- Text search utilities (search di http://www.dtsearch.com/)
- Drive imaging utilities (Ghost, Snapback, Safeback,…)
- Forensic toolkits. Unix/Linux: TCT The Coroners Toolkit/ForensiX dan Windows: Forensic Toolkit
- Disk editors (Winhex,…)
- Forensic acquisition tools (DriveSpy, EnCase, Safeback, SnapCopy,…)
- Write-blocking tools (FastBloc http://www.guidancesoftware.com) untuk memproteksi bukti-bukti.
Salah satu aplikasi yang dapat digunakan untuk analisis digital adalah Forensic Tools Kit (FTK) dari Access Data Corp (www.accesdata.com). FTK sebenarnya adalah aplikasi yang sangat memadai untuk kepentingan implementasi komputer forensik. Tidak hanya untuk kepentingan analisa bukti digital saja, juga untuk kepentingan pemrosesan bukti digital serta pembuatan laporan akhir untuk kepentingan presentasi bukti digital.
- Dalam kasus hukum, teknik komputer forensik sering digunakan untuk menganalisis sistem komputer milik terdakwa ( dalam kasus pidana ) atau milik penggugat ( dalam kasus perdata ).
- Untuk memulihkan data jika terjadi kegagalan atau kesalahan hardware atau software.
- Untuk menganalisa sebuah sistem komputer setelah terjadi perampokan, misalnya untuk menentukan bagaimana penyerang memperoleh akses dan apa yang penyerang itu lakukan.
- Untuk mengumpulkan bukti untuk melawan seorang karyawan yang ingin diberhentikan oleh organisasi.
- Untuk mendapatkan informasi tentang bagaimana sistem komputer bekerja untuk tujuan debugging, optimasi kinerja, atau reverse-engineering.
# Tanya Jawab seputar IT Forensik :
- Apa saja yang termasuk barang bukti digital forensik ?
- Kapan mulai marak di Indonesia ?
- Apakah profesional digital forensik seperti anda banyak atau tidak di Indonesia ?
- Bagaimana mekanisme kerja seorang ahli digital forensik ?
Kedua, menganalisa isi data terutama yang sudah terhapus, tersembunyi, terenkripsi, dan history internet seseorang yang tidak bisa dilihat oleh umum. Misalnya, apa saja situs yang telah dilihat seorang teroris, kemana saja mengirim email, dan lain-lain. Bisa juga untuk mencari dokumen yang sangat penting sebagai barang bukti di pengadilan. Jadi digital forensik sangat penting sekarang. Menurut saya, semua kasus perlu analisa digital forensik karena semua orang sudah memiliki digital device, kasarnya, maling ayam pun sekarang memiliki HP dan HP tersebut bisa kita analisa.
- Asumsinya, orang yang mempunyai keahlian seperti Anda tentu harus berlatar belakang IT atau komputer, betulkah ?
------------------------------------------------------------------------------------------------
# Note :
Pada dasarnya, TI Audit dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu Pengendalian Aplikasi (Application Control) dan Pengendalian Umum (General Control). Tujuan pengendalian umum lebih menjamin integritas data yang terdapat di dalam sistem komputer dan sekaligus meyakinkan integritas program atau aplikasi yang digunakan untuk melakukan pemrosesan data. Sementara, tujuan pengendalian aplikasi dimaksudkan untuk memastikan bahwa data di-input secara benar ke dalam aplikasi, diproses secara benar, dan terdapat pengendalian yang memadai atas output yang dihasilkan.
Dalam audit terhadap aplikasi, biasanya, pemeriksaan atas pengendalian umum juga dilakukan mengingat pengendalian umum memiliki kontribusi terhadap efektifitas atas pengendalian-pengendalian aplikasi.
Tugas Softskill 2 smester 8
- http://marianasetiawati.blogspot.com/2010/05/komputer-dan-jaringan-forensik-serta.html
- http://www.ebizzasia.com/0217-2004/focus,0217,04.html
- http://www.bangdewa.web.id/article/materikuliah/133/
- http://asyafaat.files.wordpress.com/2009/01/forensik_0-_-90_1s.pdf
- http://journal.uii.ac.id/index.php/Snati/article/viewFile/1634/1409
- http://lysnov.blogspot.com/2010/05/definisi-dan-tools-it-forensik.html
- http://marianasetiawati.blogspot.com/2010/05/it-forensik-dan-contoh-kasus-it.html
- http://jerenk.blogspot.com/2012/02/modul-it-forensik.html
- http://subkhan14.wordpress.com/2011/03/27/it-forensik-dan-it-audit/
- http://www.it-forensik-forum.de/
Minggu, 22 Oktober 2017
Audit Sistem Informasi
- Sejarah Audit Teknologi Informasi
- Jenis Jenis Audit Teknologi Informasi
Audit yang berfungsi untuk memeriksa apakah sistem dan aplikasi sesuai dengan kebutuhan organisasi, berdayaguna, dan memiliki kontrol yang cukup baik untuk menjamin keabsahan, kehandalan, tepat waktu, dan keamanan pada input, proses, output pada semua tingkat kegiatan sistem.
Audit yang berfungsi untuk memeriksa apakah fasilitas pemrosesan terkendali untuk menjamin ketepatan waktu, ketelitian, dan pemrosesan aplikasi yang efisien dalam keadaan normal dan buruk.
Audit yang berfungsi untuk memeriksa apakah sistem yang dikembangkan mencakup kebutuhan obyektif organisasi.
Audit yang berfungsi untuk memeriksa apakah manajemen TI dapat mengembangkan struktur organisasi dan prosedur yang menjamin kontrol dan lingkungan yang berdaya guna untuk pemrosesan informasi.
Suatu audit yang berfungsi untuk memeriksa apakah kontrol-kontrol berfungsi pada client, server, dan jaringan yang menghubungkan client dan server.
- Kesimpulan :
https://id.wikipedia.org/wiki/Audit_teknologi_informasi.
https://b-inovatif.blogspot.co.id/2017/03/sejarah-audit-teknologi.html.
http://auditsi-imam.blogspot.co.id/2015/04/s.html.
Selasa, 17 Oktober 2017
Kasus Pada Cobit
Domain
: Delivery and Support (DS)
Kasus : STMIK Lombok
COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology) adalah sekumpulan dokumentasi dan panduan yang mengarahkan pada IT governance yang dapat membantu auditor, manajemen, dan pengguna (user) untuk menjembatani pemisah antara resiko bisnis, kebutuhan kontrol, dan permasalahan-permasalahan teknis. IT Governance adalah sistem yang mengatur dan mengendalikan seluruh proses teknologi informasi perusahaan/organisasi yang strukturnya akan menetapkan pendistribusian hak dan tanggung jawab antara pihak-pihak yang terlibat juga berisikan peraturan serta strategi yang ditetapkan perusahaan/ organisasi.
Information System Audit and Control Association (ISACA) memperkenalkan sebuah kerangka untuk mengelola IT Governance di sebuah perusahaan yang dikenal dengan nama COBIT (Indrajit, 2004). Pada dasarnya COBIT dikembangkan untuk membantu memenuhi berbagai kebutuhan manajemen terhadap informasi dengan menjembatani kesenjangan antara resiko bisnis, kontrol dan masalah teknik (Putra, 2009). Karakteristik utama kerangka kerja COBIT menurut Surendro (2004: 243) dan Pandji (2007: 13) adalah pengelompokkan aktivitas teknologi informasi dalam empat domain, yaitu Plan and Organise (PO), Acquire and Implement (AI), Deliver and Support (DS) serta Monitor and Evaluate (ME). Domain PO menyediakan arahan untuk mewujudkan solusi penyampaian (AI) dan penyampaian jasa (DS). Keterkaitan keempat domain COBIT dapat dilihat dalam gambar F.2 (ITGI, COBIT 4.1, 2007).
Delivery and Support(DS)
Domain ini mencakup proses pemenuhan layanan IT, keamanan sistem, kontinyuitas layanan, pelatihan dan pendidikan untuk pengguna, dan pemenuhan proses data yang sedang berjalan. Domain DS ini terdiri dari 13 (tiga belas) proses teknologi informasi.
DS1 |
Mendefinisikan dan mengelola tingkat layanan |
DS2 |
Mengelola layanan pihak ketiga |
DS3 |
Mengelola kinerja dan kapasitas |
DS4 |
Memastikan layanan yang berkelanjutan |
DS5 |
Memastikan keamanan sistem |
DS6 |
Mengidentifikasikan dan mengalokasikan biaya |
DS7 |
Mendidik dan melatih pengguna |
DS8 |
Mengelola service desk dan insiden |
DS9 |
Mengelola konfigurasi |
DS10 |
Mengelola permasalahan |
DS11 |
Mengelola data |
DS12 |
Mengelola lingkungan fisik |
DS13 |
Mengelola operasi |
Kasus:
ANALISIS TINGKAT KEMATANGAN SISTEM INFORMASI AKADEMIK MENGGUNAKAN FRAMEWORK COBIT 4.1 (STUDI KASUS : STMIK LOMBOK
Berdasarkan penilaian subjektif implementasi Sistem Informasi Akademik telah memenuhi standar pengelolaan yang baik dilihat dari tingkat kepuasan mahasiswa sebagai pelanggan. Tidak ada nilai yang nyata terhadap tingkat pengelolaan sistem. Untuk mendapatkan nilai tingkat kematangan pengelolaan saat ini, harus diadakan tindakan audit pada Sistem Informasi Akademik yang berdasar pada standar kerangka kerja baku yang mencakup pada seluruh tingkatan proses bisnis penyellenggaraan.
COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology) standar kerangka kerja baku internasional yang digunakan untuk melakukan audit tingkat kematangan tata kelola proses-proses penyelenggaraan dalam pengelolaan TI [24][21]. kerangka kerja COBIT dibangun dari visi misi dan kebijakan institusi maka dapat diadopsi oleh penggunanya dalam peningkatan tata kelola. Hasil analisis dari semua proses akan menunjukkan tingkat kematangan kondisi saat ini terhadap keseimbangan antara tujuan yang akan dicapai dari implemetasi TI terhadap kebijakan yang diimplementasikan oleh pihak penyelenggara.
Audit tata kelola bertujuan untuk mendapatakan nilai tingkat kematangan saat ini dan rekomendasi untuk menaikkan nilai satu tingkat. Nilai dan rekomendasi akan menjadi masukan dan panduan pihak penyelenggara untuk pelaksanaan. Audit dilakukan menggunakan framework COBIT 4.1 dan tidak dibandingkan dengan framework lain pada objek penelitian hanya bagian Sistem Informasi Akademik STMIK Lombok.
2.1 Kajian Pustaka
Penelitian tentang Analisis Tata kelola Teknologi Informasi ( IT Governance ) pada Bidang Akademik dengan COBIT framework pada Universitas Stikubank Semarang yang dilakukan oleh Agus Prasetyo Utomo dan Novita Mariana tahun 2011. Domain yang menjadi objek penelitian pada Monitor and Evaluate (ME) Deliver and Support (DS), untuk dibuatkan rekomendasi pengelolaan TI. Melalui pemetaan model maturity diperoleh bahwa tingkat kematangan untuk DS mendidik dan melatih users berada pada tingkat kematangan 4 (diatur), dan untuk DS mengelola data berada pada tingkat maturity 3 (ditetapkan), pada Domain Monitor dan evaluasi kinerja TI berada tingkat maturity 3 (ditetapkan). Hasil pemetaan maturity selanjutnya disusun rekomendasi tata kelola TI untuk setiap control process untuk menaikkan satu tingkat kematangan dari setiap control process. Berdasarkan hasil wawancara visi, misi, cita-cita masa depan, dan tingginya harapan manajemen UNISBANK terhadap proses IT. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa untuk dapat mendukung tercapinya tujuan UNISBANK tingkat kematangan setidaknya pengelolaan IT yang dilakukan harus berada pada tingkat 4– diatur (managed) dimana proses di monitor dan diukur manggunakan indikator tertentu.
Penelitian menggunakan Framework COBIT pada tingkat kematangan proses TI di STMIK AMIKOM Yogyakarta yang dilakukan oleh Arif Dwi Laksito pada tahun 2013. Penelitian dilakukan dengan mengukur tingkat kematangan proses TI dengan membangun aplikasi berbasis web mengacu pada framework COBIT. Setelah mendapatkan nilai tingkat kematangan tata kelola saat ini, untuk mengukur gap antara kondisi sekarang dengan kondisi yang direkomendasikan oleh framework COBIT pada beberapa proses dalam domain DS dan ME maka dilakukan analisis. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kematangan proses TI di STMIK AMIKOM level 2 (Repeatable) yaitu kondisi dimana suatu lembaga telah memiliki kebiasaan yang terpola untuk merencanakan dan mengelola tata kelola TI dan dilakukan secara berulang-ulang secara reaktif, namun belum melibatkan prosedur dan dokumen formal. Selain menghasilkan aplikasi berbasis web, dengan mengacu pada framework COBIT maka dibuat suatu rekomendasi tata kelola TI pada beberapa proses di domain DS dan ME.
Penelitian yang dilakukan oleh Evi Maria tentang perbandingan sistem informasi akademik Universitas Satya Wacana menggunakan cobit framework pada tahun 2011. Penelitian dengan analisis internal control SI mengikuti standar COBIT (IT Governance Institute, 2005), pada domain delivery and support yang ada dalam standar pengelolaan COBIT. berdasarkan kebutuhan visi, misi, proses bisnis dan rencana strategis Universitas Satya Wacana . Domain DS menitikberatkan pada proses pelayanan sistem teknologi informasi (TI). Perbandingan SI Akademik dilakukan dengan analisis internal control SIASAT dengan hasil perbandingan bahwa Universitas Satya Wacana telah memiliki internal control.internal control memberikan jaminan layanan akademik dilakukan berdasarkan standar operasi prosedur.
3.1 Implementasi dan Hasil
Tahapan - tahapan dalam melakukan penelitian sebagai berikut:
1.studi lapangan untuk mengetahui bagaimana implelentasi Sistem Informasi akademik dan mendapatkan dokumen pendukung seperti struktur organisasi, tujuan, Visi-misi, dan strategi.
2. Melakukan pemetaan IT goals pada Bisnis Goal Improve costomer orientaions and service.
3. Menyususn tabel kuisioner proses-proses dalam cakupan domain IT goals.
4. Mengisi tabel kuisioner bersama penyelenggara.
5. Melakukan perhitunngan tingkat kematangan.
6. Menerjemahkan nilai tingkat kematangan ke dalam bentuk grafik.
7. Melakukan analisis aktivitas yang telah dijalankan 8) Menyusun rekomendasi peningkatan tata kelola tingkat kematangan.
Berdasarkan observasi dan wawancara, Bisnis goals yang relevan dengan dengan standard framework COBIT 4.1. adalah Improve customer orientation and service. Langkah selanjutnya dilakukan pemetaan dari bisnis Goals tujuan implemetasi Sistem Informasi Akademik menjadi penjabaran IT Goals yang kemudian mengarahkan pada domain proses-proses yang tekait dengan IT Goals. Pemetaan IT goals dan proses ditampilkan pada tabel berikut ini:
Business Goals |
IT Goals |
Processes |
| 4. Improve customer orientation and service. | 3. Ensure satisfaction of end users with service offerings and service levels. | PO8 AI4 DS1 DS2 DS7 DS8 DS10 DS13 |
| 23 Make sure that IT services are available as required. | DS3 DS4 DS8 DS13 |
Menyusun kuisioner dari setiap domain proses yang dilakukam pada tata kelola Sistem Informasi Akademik STMIK Lombok. Kuisioner Dibuat sesuai dengan Maturity Model level 0 sampai level 5 berdasarkan jumlah kalimat dituangkan dalam tabel. Dibuatkan kolom pernyataan yang berisi YES jika telah yakin ada atau dilaksanakan, NOT SURE jika masih diragukan, dan NO jika tidak ada atau tidak dilakukan. Tabel kuisioner juga berisi kolom EVIDENCE sebagai pembenaran dari pernyataan.
Levels |
Statement |
Yes |
Not Sure |
No |
Evidence |
0 |
1, 2 ..... N | ||||
1 |
1, 2 ..... N | 1 |
0.5 |
||
... |
1, 2 ..... N | ||||
5 |
1, 2 ..... N |
Perhitungan tingkat kematangan Sistem Informasi Akademik STMIK Lombok dilakukan berdasarkan hasil pengisian kuisioner yang dihitung dengan perhitungan tabel dibawah ini.
Level |
Pernyataan |
Skor |
A | B | C |
0 |
1 | 1 |
|||
| ... | 0.5 |
||||
| n | 0.5 |
||||
subtotal |
2 |
0.67 |
0.52 |
0.00 |
|
... |
1 |
0.5 |
|||
... |
1 |
||||
n |
1 |
||||
subtotal |
2.5 |
0.36 |
0.28 |
0.28 |
|
5 |
1 |
0.5 |
|||
... |
0 |
||||
n |
1 |
||||
subtotal |
1.5 |
0.25 |
0.20 |
0.98 |
|
Tingkat kematangan Domain |
1.27 |
1.00 |
1.26 |
||
Nilai tingkat kematngan tata kelola pada proses-proses penyelenggaraan Sistem informasi Akademik secara keseluruhan merupakan nilai model maturity dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
No. |
Nilai |
Keterangan |
1 |
0,00 |
Non -Existent 0 (None) |
2 |
1.00 |
1 Initial / Ad Hoc |
3 |
2.00 |
2 Repeatable but intuitive |
4 |
3.00 |
3 Defined Process |
5 |
4.00 |
4 Managed and Measurable (Set) |
6 |
5.00 |
5 Optimized |
skala pembualan indeks bagi pemetaan ketingkat model maturity terdapat pada tabel dibawah ini:
Skala Pembuatan |
Tingkat Model Maturity |
| 4.51 - 5.00 | 5 - Dioptimalkan |
| 3.51 - 4.50 | 4 - Diatur |
| 2.51 - 3.50 | 3 – Ditetapkan |
| 1.51 - 2.50 | 2 - Dapat Diulang |
| 0.51 - 1.50 | 1 - Inisialisasi |
| 0.00 - 0.50 | 0 - Tidak Ada |
Hasil perhitungan tingkat kematangan tata kelola TI Sistem Informasi Akademik STMIK Lombok dengan model perhitungan tabel perhitungan nilai dijabarkan secara singkat pada Tabel dibawah ini:
Domain |
Deskripsi | Nilai |
P08 |
mengelola kwalitas | 0.37 |
AI4 |
mengizinkan operasi dan penggunaan | 1.87 |
DS1 |
Mendefinisikan dan Mengatur Tingkat Layanan | 1.50 |
DS2 |
Mengelola layanan pihak ketiga | 1.03 |
DS3 |
Mengelola layanan pihak ketiga Mengelola Kinerja dan Kapasitas | 1.33 |
DS4 |
Memastikan Layanan berkelanjutan | 1.03 |
DS7 |
Mendidik dan Melatih pengguna | 2.23 |
DS8 |
Mengelola Layanan dan Insiden | 2.39 |
DS10 |
Mengelola Kendala | 1.01 |
DS13 |
Mengelola Pekerjaan | 1.44 |
Nilai tingkat kematagan tata kelola IT kondisi saat ini yang termuat pada tabel daiats dapat disajikan dalam bentuk grafik. Penyajian dalam bentuk memberi kemudahan untuk menilai tingkat domain yang memiliki tingkat kematangan yang rendah. gambar dibawah ini merupakan grafik nilai tingkat kematangan kondisi saat ini.
Rekomendasi disusun berdasarkan hasil analisis terhadap aktivitas yang belum dilaksanakan oleh pihak penyelenggara. Rekomendasi ini sebagai langkan untuk menaikkann tingkat kematangan tata kelola Sistem Informasi Akademik STMIK Lombok agar sejalan dengan tujuan bisnis.
1. Rekomendasi PO8 mengkomunikasakan dengan STMIK Lombok untuk membangun dan mengelola rencana perbaikan terus menerus. Mengukur dan memantau keselarasan manfaat TI dengan tujun Organisasi.
2. Rekomendasi AI4 Mengembangkan buku pengguna aplikasi Sistem Informasi Akademik untuk mahasiswa. Mengembangkan dokumentasi dukungan teknis untuk panduan staff
3. Rekomendasi DS1 Membangun SLA untuk layanan TI yang kritis. Melakukan pemantauan dan pelaporan kinerja dari pihak pengelenggara dan mahasiswa. Melakukan reviw pada SLA dan Ucs untuk layanan pihak ketiga. Selalu meninjau dan memperbahaurui katalog layanan TI. Menciptakan layan untuk rencana perbaiakan.
4. Rekomendasi DS2 Melakukan definisi dokumen pemasok untuk seleksi prosedur untuk evaluasi kinerja dari pemsok. Selalu melakukan monitoring kepada pemasok.
5. Rekomendasi DS3 Melakukan perencanaan kontingensi untuk potensi ketersdiaan sumber data TI. Melakukan pemantauan dan pelaporan ketersediaan kinerja dan kapasitas sumber daya TI. Mendokumentasikan grafik RACI untuk menentukan personel yang
bertanggung jawab, diinformasikan, dikonsultasikan, dilaporkan.
6. Rekomendasi DS4 Melakukan pengujian secara teratur terhadap rencana keberlanjutan TI. Mengembangkan tindakan lanjut yang relevan dengan hasil test. Melaksanakan pelatihan berkesinambungan pada oprasiaonal layanan TI.
7. Rekomendasi DS7 Membangun rencana pelatihan penyelenggara. Melakukan evaluasi terhadap hasil pelatihan. Melakukan identifikasi dan evaluasi metode pelaksanaan pelatihan yag terbaik dan sarana prasarana pendukung kegiatan.
8. Rekomendasi DS8 membuat klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan dan d apak yang ditimbulkan dari kesalahan prosedur operasional. Mendeteksi dan membuat cacatan insiden terhadap permintaan layanan maupun permintaan informasi. Menyelidiki dan mendiagnosa pertanyaan. Membuat dokumen pelaporan hasil manajemen.
9. Rekomendasi DS10 Melakukan peninjauan akar permasalahan yang muncul. Mengeluarkan rekomendasi untuk rencana perbaikan. Dan membuat RFC yang terkait dengan permasalahan yang muncul.
10. Rekomendasi DS13.Melakukan monitoring infrastruktur, pengolahan dan penyelesaian masalah. Mengelola dan mengamankan keluaran fisik. Menetapkan dan melaksanakan proses untuk menjaga otentikasi terhadap gangguan, kehilangan, dan pencurian. Melakukan pemeliharaan preventif secara terjadwal.
4.1 Kesimpulan
1. Untuk mendapatkan nilai tingkat kematangan tata kelola Sistem Informasi Akademik STMIK Lombok TI kondisi saat ini dengan melaksanakan serangkaian kegiatan yang mengacu pada kerangka kerja COBIT4.1.
2. Untuk menyusun rekomendasi, dilakukan analisis kepatuhan pada tabel activity COBIT 4.1. untuk menaikkan satu tingkat kematangan tata kelola saat ini pihak penyelenggara harus melaksanakan rekomendasi activity .
Daftar Pustaka:
[1]Anonim. 2013. Buku Pedoman Akademik. Tahun Akademik 2012-2013. Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Lombok. Praya[2] Anonim. 2014. Pedoman Pelaksanaan Tugas Tanggungjawab STMIK Lombok. Praya: Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Lombok.
[3] Gondodiyoto, S. 2007. Audit Sistem Informasi: Pendekatan Cobit, Edisi Revisi. Jakarta: Mitra Wacana Media.
[4] Widyanti, Sri, 2010, Audit Tata Kelola Teknologi Informasi dengan Menggunakan Maturity Assessment Tool COBIT 4.1.
URL:
http://cobitindo.blogspot.com/2012/01/skala-maturity-dari-frameworkcobit. (Diakses tanggal 1 Januari 2012).http://janeman.wordpress.com/2008/03/26/audit-menggunakan-framework-cobit. (Diakses tanggal 4 Januari 2010).
Senin, 15 Mei 2017
Perbandingan Framework
COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology)
COBIT didasarkan atas filosofi bahwa sumber daya IT membutuhkan pengelolaan untuk menyediakan informasi yang dapat dipercaya kepada organisasi dalam rangka mencapai tujuannya. Penguasaan IT yang efektif akan membantu untuk menyakinkan bahwa IT telah mendukung tujuan perusahaan, mengoptimalkan investasi bisnis pada IT.
Tujuan COBIT adalah menyediakan model dasar yang memungkinkan pengembangan aturan yang jelas dan praktek yang baik dalam mengontrol informasi dalam suatu organisasi/perusahaan dalam mencapai tujuannya.
• Manajemen
Dengan penerapan COBIT, manajemen dapat terbantu dalam proses penyeimbangan resiko dan pengendalian investasi dalam lingkungan IT yang tidak dapat diprediksi.
• User
Pengguna dapat menggunakan COBIT untuk memperoleh keyakinan atas layanan keamanan dan pengendalian IT yang disediakan oleh pihak internal atau pihak ketiga.
• Auditor
Dengan penerapan COBIT, auditor dapat memperoleh dukungan dalam opini yang dihasilkan dan/atau untuk memberikan saran kepada manajemen atas pengendalian internal yang ada.
1. Control Objectives: Terdiri atas 4 tujuan pengendalian tingkat-tinggi (high-level control objectives ) yang tercermin dalam 4 domain, yaitu: planning & organization , acquisition & implementation , delivery & support dan monitoring .
2. Audit Guidelines: Berisi sebanyak 318 tujuan-tujuan pengendalian yang bersifat rinci (detailed control objectives ) untuk membantu para auditor dalam memberikan management assurance dan/atau saran perbaikan.
3. Management Guidelines: Berisi arahan, baik secara umum maupun spesifik, mengenai apa saja yang mesti dilakukan.
COBIT melihat pengendalian dalam tiga dimensi berbeda yaitu Sumber TI, Proses
TI, dan Kriteria Informasi TI.
ITIL ( Information Technology Infrastructure Library)
Pemerintah sebagai regulator, Orang / pihak di bidang jasa pelayanan IT, organisasi yang menerapkan ITIL, Auditor, Mitra Bisnis (Investor/konsumen)
ITIL-3 bukanlan sebuah standar tetapi hanya kerangka yang berisi 8 seri mengenai praktek-praktek terbaik mengenai IT service management dan distribusi IT service yang berkualitas tinggi. Delapan seri tersebut adalah sebagi berikut : Software Asset Management, Service Support, Service Delivery, Planning to Implement Service Management, ICT Infrastructure Management, Application Management, Security Management, Business Perspective
2 dasar konsep ITIL :
1. Menjaga supaya layanan bisa digunakan dengan baik oleh user ( service support )
2. Proses bagaimana cara mendeliverykan layanan tersebut (service delivery )
Dua karakteristik dasar konsep ITIL adalah sebagai berikut : Service management,Customer orientation.
ISO/IEC
International Organization for Standardization disingkat ISO atau Iso) adalah badan penetap standar internasional yang terdiri dari wakil-wakil dari badan standardisasi nasional setiap negara. Pada awalnya, singkatan dari nama lembaga tersebut adalah IOS, bukan ISO. Tetapi sekarang lebih sering memakai singkatan ISO, karena dalam bahasa Yunani isos berarti sama (equal). Penggunaan ini dapat dilihat pada kata isometrik atau isonomi.
ISO/IEC 38500:2008 memberikan panduan secara prinsip bagi para direksi dari suatu perusahaan (termasuk di dalamnya para pemilik, anggota dewan, direksi, partners, senior executives, atau sejenisnya) mengenai Teknologi Informasi (TI) yang effective, efficient, dan acceptable use di dalam organisasi mereka.
PERBEDAAN :
• COBIT dan ITIL adalah standard yang cakupan areanya adalah menengah ke bawah
• ISO 38500 cakupan areanya adalah menengah ke atas
• COBIT dan ITIL cocok jika dijadikan sebagai IT management framework
• ISO 38500 cocok jika digunakan sebagai IT governance framework.
• Kerangka kerja COBIT memasukkan hal-hal berikut ini : (1) Maturity Models , (2) Critical Success Factors (CSFs), (3) Key Goal Indicators (KGIs), dan (4) Key Performance Indicators (KPIs).
• Kerangka kerja yang digunakan untuk mengelola infrastruktur teknologi dan informasi dalam suatu organisasi, dan bagaimana memberikan pelayanan yang terbaik bagi para pengguna teknologi informasi.
• Kerangka kerja digunakan bagi pemerintahan untuk membantu mereka pada tingkat tertinggi dari organisasi untuk memahami dan memenuhi kewajiban hukum, peraturan, dan etika mereka dalam hal penggunaan organisasi mereka ‘IT.
PERSAMAAN
Dijadikan sebagai IT governance framework
memberikan pedoman pada perusahaan bahwa keputusan-keputusan strategic IT tidak hanya berada pada CIO saja tetapi juga pada direksi, komisaris dan pemegang-saham.
COBIT
COBIT adalah framework matang, pertama kali dirilis pada tahun 1996 oleh Information System Audit and Control Association (ISACA)
Edisi kedua muncul pada tahun 1998, yang ketiga pada tahun 2000, dan yang terakhir pada edisi keempat
Sekarang CoBIT dipublikasikan dengan nama ITGI (the IT Governance Institute)
COBIT adalah framework untuk informasi manajemn resiko IT, atau lebih formal, sebuah “kerangka kerja dan toolset pendukung yang memungkinkan manajer untuk menjembatani kesenjangan antara kebutuhan pengendalian permasalahan teknis dan risiko bisnis”(ref: ISACA)
Kelebihan Cobit:
1. Rahasia
2. Proteksi terhadap informasi yang sensitif dari akses yang tidak bertanggung jawab.
3. Integritas
4. Berhubungan dengan penyediaan informasi yang sesuai untuk manajemen.
5. Secara umum dapat dikatakan bahwa COBIT merupakan sebuah model tata kelola TI yang memberikan sebuah arahan yang lengkap mulai dari sistem mutu, perencanaan, manajemen proyek, keamanan, pengembangan dan pengelolaan layanan. Arahan dari COBIT kemudian didetailkan kembali oleh beberapa model framework sesuai dengan perkembangan keilmuan.
Kekurangan COBIT
1. COBIT hanya memberikan panduan kendali dan tidak memberikan panduan implementasi operasional.
2. COBIT hanya berfokus pada kendali dan pengukuran.
ITIL
ITIL adalah sebuah framework yang mulai dikembangkan sejak tahun 1980 oleh pemerintahan Inggris, untuk kebutuhan mereka sendiri
Dalam beberapa tahun terakhir ini telah diadopsi secara luas, dan internasional
Dapat dikatakan kerangka manajemen yang paling banyak digunakan IT
ITIL mencakup struktur organisasi dan persyaratan keterampilan untuk organisasi IT dengan menghadirkan seperangkat prosedur manajemen
Ini dimaksudkan untuk menjadi pemasok independen dan berlaku untuk semua aspek infrastruktur TI.
Kelebihan ITIL :
1. Memberi deskripsi rinci sejumlah praktik penting TI dan menyediakan daftar komprehensif tugas dan prosedur yang didalamnya setiap organisasi dapat menyesuaikan dengan kebutuhannya sendiri
2. ITIL bukan merupakan standard yang memberikan prescription tetapi lebih kepada merekomendasikan, oleh karena itu implementasi antara satu organisasi dengan organisasi lain dapat dipastikan terdapat perbedaan. Dengan demikian kita tidak bisa membandingkan / melakukan benchmark secara pasti;
Kelemahan ITIL :
1. Kelemahan ITIL antara lain: buku-buku ITIL sulit terjangkau bagi pengguna non komersial, ITIL bersifat holistic yang mencakup semua kerangka kerja untuk tatakelola TI, pelaksanaan pedoman dalam buku ITIL memerlukan pelatihan khusus dan biaya pelatihan atau sertifikasi ITIL terlalu tinggi.
ASL dan ITIL
Application Services Library (ASL) adalah kerangka kerja kerangka kerja domain publik yang digunakan untuk membakukan proses dalam Manajemen Aplikasi, disiplin memproduksi dan memelihara sistem dan aplikasi informasi. Istilah “perpustakaan” digunakan karena ASL disajikan sebagai seperangkat buku yang menjelaskan praktik terbaik dari industri TI. Hal ini dijelaskan dalam beberapa buku dan artikel (kebanyakan hanya tersedia dalam bahasa Belanda) dan di situs resmi Yayasan ASL BiSL.
ASL vs ITIL
ASL terkait erat dengan kerangka kerja ITIL (untuk IT Service Management) dan BiSL (untuk Manajemen Informasi dan Manajemen Fungsional) dan Model Kematangan Kemampuan Milik (CMM).
Kerangka kerja ASL dikembangkan karena ITIL, yang dipeluk oleh departemen infrastruktur TI, terbukti tidak memadai untuk Manajemen Aplikasi: pada saat itu, ITIL tidak memiliki panduan khusus untuk merancang, pengembangan, pemeliharaan dan dukungan aplikasi. Versi ITIL yang lebih baru, terutama V3, telah semakin banyak membahas Domain Pengembangan Aplikasi dan Manajemen Aplikasi; Yayasan ASL BiSL telah menerbitkan sebuah makalah putih yang membandingkan ITIL v3 dan ASL.
ASL dikembangkan pada akhir tahun sembilan puluhan di Belanda, yang awalnya merupakan model R2C eksklusif, yang berevolusi menjadi ASL pada tahun 2000. Pada tahun 2001, ia disumbangkan oleh IT Service Provider PinkRoccade ke ASL Foundation, sekarang menjadi Yayasan ASL BiSL. Versi ASL2 diterbitkan pada tahun 2009.
MOF dan ITIL
Baik framework Microsoft Operations Framework (MOF) dan ITIL mengikuti pendekatan cycle life
ITIL menggunakan lima elemen untuk siklus hidupnya: Strategi, Desain, Transisi, Operasi, dan Perbaikan Berkesinambungan, ITIL memiliki 26 Proses dan empat fungsi.
Inti siklus hidup MOF hanya terdiri dari tiga fase: Plan, Deliver, and Operate, dengan satu lapisan yang mendasari (Manage) yang mencakup komponen yang berlaku untuk semua fase siklus hidup.
MOF vs ITIL
MOF tidak seperti ITIL hampir seluruhnya didasarkan pada Service Management Functions (SMFs), masing-masing SMF memiliki seperangkat proses kunci, dan setiap proses memiliki serangkaian aktivitas utama.
Struktur kaku ini mendukung konsistensi sepanjang kerangka kerja.
Perbedaan lainnya adalah cara penanganan pelanggan ditangani: ITIL memisahkan panggilan kejadian dari permintaan layanan operasional dan permintaan perubahan, dan MOF menggabungkan beberapa jenis permintaan pelanggan di satu Layanan Pelanggan SMF.
Apa yang saya suka tentang MOF adalah bahwa dokumen tersebut secara eksplisit mendokumentasikan pertanggungjawaban dan tanggung jawab di semua fase siklus hidup dan di lapisan Kelola.
Poin kunci
Ini mengidentifikasi pengambil keputusan dan pemangku kepentingan
- Evaluasi kinerja.
- Manajemen risiko.
- Kepatuhan pada lapisan Kelola.
- Mendukung tata kelola sepanjang siklus hidup.
- Tinjauan Manajemen Eksplisit digunakan di seluruh kerangka MOF sebagai mekanisme kontrol
Sumber :
http://bang-ilmu.blogspot.co.id/2016/05/cobit-itil.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Application_Services_Library
http://www.designed-solutions.co.uk/mof-vs-itil/



